Ex Jurnalis BBC: Jurus Double-Bladed Sword Panglima TNI Membuat Konstelasi Politik Terang Benderang!


Ex Jurnalis BBC: Jurus Double-Bladed Sword Panglima TNI Membuat Konstelasi Politik Terang Benderang!

- Drama 5,000 pucuk senjata telah terjelaskan dengan runtun dan tegas oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Jendral, Anda telah mengatakan sesuatu yang sangat berbahaya sesuai dengan data intelijen A1 yang Anda miliki. Yaitu, data yang Anda yakini kebenarannya. Bahwa ada upaya untuk memiliki ribuan pucuk senjata secara ilegal oleh institusi di luar TNI dan Polri. Bahwa pesanan senjata tsb, menurut infomasi A1 itu, mencatut nama Presiden Joko Widodo.

Pak Jenderal, Anda telah melaksanakan peran Anda sebagai “the Commander in Charge”, sebagai Panglima operasional, yang mengemban kewajiban dan hak untuk menjaga keamanan seluruh rakyat. Meskipun penjelasan Anda itu kemudian bagaikan dianulir oleh “the Commander in Chief”, Panglima Tertinggi, melalui Menko Polhukam Jenderal (Purn) Wiranto.

Dalam silsilah kekomandoan militer di Indonesia, tentu saja Anda harus menghormati langkah yang diambil oleh “Commander in Chief”. Panglima Tertinggi, melalui Menko Polhukam, mengatakan bahwa tidak ada pemesanan senjata ilegal oleh institusi di luar TNI-Polri. Penjelasan Panglima Tertinggi itu wajib Anda terima tanpa syarat. Unconditional, non-negotiable.

Tetapi, sebagai “Commander in Charge”, semua orang sepakat bahwa Anda mampu mendeteksi ancaman terhadap bangsa dan negara. Anda dilengkapi dengan aneka macam organ yang diperlukan, dan Anda telah memaksimalkan operasi satuan-satuan tersebut. Artinya, dikala Anda sebut “informasi A1”, semua pihak harus meyakininya hingga ada koreksian di kemudian hari.

Klarifikasi yang disampaikan oleh Menko Wiranto itu secara gamblang “menganulir” berita A1 yang Anda ungkapkan. Harap diingat, “menganulir” tidak sama dengan “mengoreksi”. Seumpama di lapangan bola, gol Anda mampu saja dianulir, dianggap tidak ada, oleh wasit meskipun gol itu bersih, tanpa pelanggaran. Panglima Tertinggi berhak menganulir bawahannya.

Tetapi, gol yang dianulir biasanya akan dicatat sebagai “gol yang sah” oleh banyak penonton. Akan dibahas dan disimulasikan sebagai bentuk rekonstruksi untuk menerima kejelasan yang tak terbantahkan.

Sekali lagi, Menteri Wiranto bukan mengoreksi Anda. Sebab, hanya Anda, Panglima, yang berhak dan pantas mengoreksi berita A1 yang Anda dapatkan dari unit yang pribadi berada di bawah komando Anda. Kalau Anda tetap yakin dengan kebenaran info A1 tsb, tentu tidak ada kewajiban untuk melaksanakan koreksi. Tetapi, pihak-pihak lain tentu saja berhak menafikannya. Menidakkannya. Tetapi bukan mengoreksinya.

Sebagai Commander in Charge, yang bertanggung jawab atas keamanan negara dari menit ke menit, Anda telah menawarkan penjelasan kepada rakyat wacana potensi ancaman keamanan yang mampu muncul dari pembelian senjata ilegal yang jumlahnya cukup besar.

Meskipun di sana-sini ada komentar yang menyebutkan bahwa cara Anda mengolah kasus 5,000 pucuk senjata itu tidak tepat, tapi yakinlah bahwa cara yang dianggap tidak terpelajar itu memunculkan pesan yang tersirat yang sangat besar. Hikmah itu berbentuk “pesan” penting untuk rakyat bahwa acara ilegal yang sangat berbahaya, sangat mungkin terjadi dalam situasi yang penuh dengan ketidakmenentuan.

Panglima! Penjelasan “innocent” (apa adanya) yang Anda tuturkan kepada para senior tentara di markas Cilangkap, mampu juga disebut sebagai “double-bladed sword” –pedang bermata dua.

Di satu sisi, Anda menawarkan “warning” yang sangat diharapkan oleh seluruh rakyat, sedangkan di sisi lain Anda juga “memaksa” sejumlah orang “to come clean”, untuk membuat pernyataan “saya tidak, kami tidak”. Membuat bantahan-bantahan dan sejenisnya.

Salah total bila ada yang menganggap Anda pemimpin TNI terburuk di masa Reformasi. Sebaliknya, Anda membuat konstelasi politik kekuasaan menjadi terlihat terang-benderang.

Penulis: Asyari Usman, ex jurnalis BBC

[pi]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ex Jurnalis BBC: Jurus Double-Bladed Sword Panglima TNI Membuat Konstelasi Politik Terang Benderang!"

Post a Comment