Beda Keterangan Menhan dan Polri Soal Isu Senjata untuk BIN


Beda Keterangan Menhan dan Polri Soal Isu Senjata untuk BIN

- Perbedaan pernyataan dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Mabes Polri terkait dengan isu pembelian senjata oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Perbedaannya terkait dengan jumlah dan jenis senjata yang dipesan oleh BIN.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto pada Senin (25/9) mengatakan izin tersebut sudah dilayangkan BIN ke pihaknya. Setyo menjelaskan, senjata yang dipesan berjumlah 517 pucuk dan berjenis non military Kaliber 9 milimeter.

Menurut Setyo, 517 pucuk senjata ini bukanlah hasil hibah Polri, namun dibeli eksklusif oleh BIN, dengan seizin Polri. Nantinya Polri akan membuat rekomendasi ke PT Pindad bahwa BIN diperbolehkan membeli jenis senjata dengan jenis yang ditentukan Polri.

"Non military. Dia bukan senjata otomatis. Kalibernya, jenisnya, yang terang itu bukan senjata otomatis. Kalau senjata otomatis itu military pasti," ujarnya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Jadi di dunia ini ada military, law enforcement weapon, kemudian sport weapon. Sport weapon macam-macam. Itu kaliber 9 milimeter, itu yang (dipesan) BIN," imbuhnya.

Bila dilihat di situs PT Pindad, ada dua senjata berkaliber 9 milimeter, yakni G2 Combat dan G2 Elite. Namun, G2 Elite merupakan senjata semi auto.


Namun hari ini, Selasa (26/9), Menhan Ryamizard mengeluarkan pernyataan berbeda. Pertama, ia mengatakan jumlah senjata yang dipesan BIN ialah 521 pucuk dan 72 ribu amunisi tajam..

Terkait dengan jenis senjata juga terdapat perbedaan. Ryamizard mengatakan, jenis senjata yang dipesan BIN ialah senjata api jenis SS2-V2 kaliber 5,56 milimeter. SS2-V2 ialah jenis senjata laras panjang yang dikeluarkan PT Pindad pada 2006. SS merupakan singkatan dari senapan serbu.

"Masalah itu, ini problem pembelian ini, Menhan sudah tandatangan Mei 2017, ada tandatangan Wakil BIN (Letjen Teddy Laksmana) sudah aku sampaikan 521 pucuk, amunisi 72 ribu,” kata Ryamizard di Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.


Dikutip dari situs resmi PT Pindad, SS2 memiliki spesifikasi sebagai berikut: enam alur dengan putaran 178 mm (1:7 in) dilengkapi dengan peredam sinar yang akan mengurangi pancaran api dan mengurangi hentakan ke belakang.

Selain itu, senjata jenis ini juga melaksanakan pembidikan melalui lubang pada pisir yang dapat diatur elevasi maupun azimutnya untuk meningkatkan ketelitian. Mode tembakan ialah tembakan tunggal, otomatis penuh seta posisi terkunci (safe).

Sementara itu, Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan, izin pembelian senjata untuk BIN belum dikeluarkan.

"Belum ada, belum ada. Kan sudah dijelaskan ke Kapolri kemarin," kata Syafruddin terpisah.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Beda Keterangan Menhan dan Polri Soal Isu Senjata untuk BIN"

Post a Comment